Diantara nama dan sifat Allah adalah  ٌعَلِيْمٌ حَكِيْم bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, tidaklah Allah melakukan sesuatu dari memerintah dan melarang melainkan dibaliknya ada tujuan dan hikmah-hikmah yang indah.

Diantaranya adalah perintah Allah jalla wa azza untuk beribadah kepada-Nya. Tujuan dari Allah menciptakan kita adalah agar kita menyembah Allah. Allah berfirman :

 (وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)

" Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku ".[Surat Adz-Dzariyat 56]


Dan ketika manusia telah meninggal dunia Allah tidak meninggalkan mereka begitu saja, melainkan Allah akan membangkitkan mereka kembali untuk di hisab tentang amal perbuatan mereka. Sebagaimana kita tahu bahwa Allah memiliki sifat Maha Bijaksana dan tersucikan dari sifat sia sia.

Bukankah Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman :

(أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ عَبَثࣰا وَأَنَّكُمۡ إِلَیۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ)

" Apakah kalian mengira bahwasanya kami menciptakan kalian main-main dan bahwasanya kalian tidak akan dikembalikan kepada kami??" [Surat Al-Mu'minun 115]

Dari 2 ayat di atas kita mengetahui bahwa :

1. Alloh tidak pernah menciptakan apapun dalam keadaan sia-sia pasti ada hikmah dan tujuan dibaliknya. 

Berkata Syaikh as Sa'di : "Ketika kalian makan, minum, bercanda ria dan menikmati kelezatan-kelezatan dunia, apakah ketika itu kalian mengira bahwasannya kami menciptakan kalian sia-sia tanpa memerintahkan kalian (melakukan kebaikan) dan melarang kalian (dari keburukan) memberi pahala ( kepada yang berbuat kebaikan) dan menghukum kalian (sebagai peringatan atas keburukan yang kalian lakukan) dan bahwasannya kalian tidak dikembalikan kepada kami untuk di hisab??,  Ingatlah sesungguhnya Alloh itu tersucikan dari sifat yang sia-sia. "

2. Hidupnya kita di dunia ini di maksudkan untuk beribadah kepada Allah bukan yang lain dan inilah hakikat dari tujuan hidup, namun banyak diantara manusia yang menjadikannya sampingan dan menganggapnya suatu beban, dan ia pun merasa bahwa ibadah tersebut terasa sangat berat.

Padahal Allah telah menjadikan jalan untuk mengerjakan ibadah tersebut mudah dengan beberapa jalan diantaranya :

1. Kebahagiaan di dunia tak akan bisa terwujudkan melainkan dengan beribadah.

Seorang manusia ketika ia di tanya apa yang kamu inginkan dari kehidupanmu didunia ini?? Niscaya mereka semua akan menjawab bahwa yang mereka inginkan adalah suatu kebahagiaan, memang setiap orang berbeda cara dalam memperoleh kebahagiaan, ada yg dengan mencari harta ada yang dengan mencari tahta ada yg dengan mencari seorang istri yang cantik jelita dan yang lainnya hingga puluhan cara bahkan ratusan cara mereka tempuh hanya untuk mendapatkan "kebahagiaan".

Akan tetapi apa itu hakikat kebahagiaan ??
Ya, kebahagiaan yang haqiqi adalah ketenangan hati dan kepuasannya terhadap apa yang kita miliki dan hal itu hanya ada dalam ibadah kepada Alloh. Allah berfirman : 

(ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَتَطۡمَىِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَىِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ) 

" Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. " [Surat Ar-Ra'd 28]

2. Ibadah yang Allah wajibkan hanya sedikit.

Telah kita ketahui bersama bahwa diantara nama dan sifat allah adalah ُالعَِليْم  Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Allah sangat tahu bahwa manusia sangat berbeda dengan para malaikat, yang mana dalam hal ibadah mereka Allah sifati dengan :

(یُسَبِّحُونَ ٱلَّیۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا یَفۡتُرُونَ)

"Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. " [Surat Al-Anbiya' 20]

Tetapi Allah ciptakan dalam diri manusia hawa nafsu yang mendorongnya kepada sesuatu yang menjauhkan dari Allah. Oleh karena itu Allah hanya mewajibkan beberapa ibadah saja kepada hambanya karena Allah sangat menyayangi para hambanya dan tidak ingin memberatkan mereka.

Dan masih banyak lagi diantara tanda bahwa Allah memudahkan jalan untuk mengerjakan ibadah.

Maka selayaknya bagi kita untuk memahami hal ini dan berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa istiqomah di dalam beribadah kepada Allah.

𝑫𝒊𝒕𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒐𝒍𝒆𝒉 : Hafidz Dhiya' Ulhaq

0 Komentar